Krisis Karakter Dunia Pendidikan dalam Sistem Liberal

Krisis karakter sekarang menjadi fakta nyata, yang masih belum mendapat perhatian khusus. Karakter dunia pendidik saat ini, telah tercoreng oleh kerusakan moral yang menimpa kaum terpelajar secara umum. Betapa banyak masa depan yang rusak karena pandangan hidup yang salah, sehingga cara hidup pun menjadi salah.
Siti Nur Shofiyyah Yani

Salah satunya kegiatan-kegiatan yang mengandung kebebasan dalam melalukan apa saja, tanpa batasan yang menjaga, tidak bisa dipungkiri inilah awal dari kerusakan karakter.  Utamanya dari segi pergaulan yang bebas yang  tidak mampu teratasi, sebab di dalamnya terdapat fasilitas yang mendukung gaya hidup liberalisme. Liberalisme adalah virus nyata yang mengakibatkan berbagai permasalahan pemuda-pemudi, diantaranya ialah tawuran, seks bebas, aborsi, pecandu narkoba dan lain-lain. Dimana dapat membawa dampak rusaknya mental remaja di masa depan, serta ketidaktentuan arah.

Sehingga jadilah pendidikan tidak bisa jadi tolok ukur baiknya masa depan, dikarenakan karakternya telah jauh dari kata baik, akibat  liberalisme yang menjamur kesegala lini dalam menjalani aktivitas setiap hari. Semua disebabkan oleh budaya liberalisme yang menghantarkan kepada narkoba, pergaulan bebas, hedonisme, dan tindak-tindak kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang kehilangan jati diri karena gaya hidup yang salah.

Dari sini kerusakan itu sudah bukan rahasia umum lagi, secara menyeluruh kita telah melihat sendiri banyak sekali kerusakan, yang dihasilkan oleh liberalisme yang mengarahkan kita pada kesengsaraan hidup. Seperti fakta nyata yang telah dan masih akan terjadi saat ini di samping liberalisme, terdapat sekularisme yang menjadi pandangan dalam menjalani hidup, sehingga mereka para pelajar menjadi kian jauh dari nilai-nilai pemahaman yang benar.

Tujuan pendidikan menciptakan manusia indonesia seutuhnya yang beriman dan bertakwa, tetapi banyak kebijakan dalam dinamika dunia pendidikan justru kontradiktif. Misalnya aktivitas yang mengarah pada liberalisasi perilaku difasilitasi, sementara kegiatan rohis dan keagamaan dicurigai bahkan dilarang. Konten pelajaran yang mengarah pada pemahaman islam kaffah dihilangkan, sementara konten liberal dan merusak moral secara vulgar dibiarkan. Upaya pembungkaman rohis dan aktivis dakwah di sekolah, pesantren dan masjid kampus dilakukan secara masif, sementara kegiatan-kegiatan hedonis disemarakkan.

Ini justru mengalami keterbalikan, bagaimana mungkin aktivitas liberalisme yang mengarah pada kerusakan begitu mendapat dukungan sarana, sedangkan konten pelajaran mengarah kepada pemahaman islam serta aktivitasnya yang membawa mashlahat, menuju ke arah yang baik malah tidak disaranai dan tidak mendapat dukungan dan tidak dipandang sebagai sesuatu yang membawa perubahan yang baik. Ini tidak seharusnya terjadi,
seharusnya kurikulum dan kebijakan pendidikan berpijak pada pengokohan akidah, penguatan kepribadian islam, fakih dalam agama dan tinggi dalam sains dan teknologi. Sosok pribadi yang dihasilkan adalah pribadi yang berkarakter ulama sekaligus ilmuwan.  Kebijakan negara didukung oleh kurikulum, kegiatan sekolah dan ektrakurikuler serta lingkungan yang kondusif.

Islam mewajibkan pengokohan dalam bidang dunia pendidikan ini, sangat jadi perhatian besar dengan standar akidah, serta kurikulum yang mumpuni dalam kemajuan ilmu pendidikan. Semua aktivitas yang menyangkut penggalian ilmu, serta pengembangan kepribadian islam dalam diri para pelajar, akan terjaga karena tersuasanakan dengan keimanan. Negara (khilafah) akan menjaga segala sesuatu yang merusak karakter dunia pendidikan, dengan cara menutup segala celah yang mendukung ke arah gaya hidup liberalisme.

Maka dengan inilah karakter dunia pendidikan, sebagai pembentuk generasi ilmuan itu akan kembali menemui titik terang, yakni dengan pola pikir  yang senantiasa terjaga dari ide liberalisme, serta jauh dari pandangan sekularisme, yang merusak kelurusan iman dan taqwa kepada Allah. Tentunya hal yang menjaga seperti ini hanya akan dapat dijumpai dalam penerapan islam secara keseluruhan dalam naungan khilafah Islam.(*)

Penulis : Siti Nur Shofiyyah Yani

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website