Lunturnya Sikap Hormat Pada Guru

Kembali nodai dunia pendidikan, kasus Dasrul jadi pelajaran sekaligus kecaman. Pasalnya pada Agustus 2016 lalu, guru SMKN 2 Makassar tersebut mengalami tindak kekerasan oleh Adnan Achmad, orang tua siswa. Masih di tahun yang sama seorang mahasiswa membunuh dosen FIKP Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU).

Anggota Komisi X DPR Reni Marlinawati menyesalkan tindak kekerasan yang terjadi. Menurut Reni, kasus tersebut membuat profesi guru menjadi tidak bermarwah. Guru yang semestinya menjadi teladan dan panutan menjadi tidak memiliki marwah (integritas) sebab kian sering menjadi korban aksi kekerasan.
Murni Arpani

Pada dasarnya guru adalah sosok penting dalam dunia pendidikan. Perannya yang vital dalam menyalurkan ilmu membuatnya mendapat julukan pahlawan tanpa tanda jasa sepanjang masa. Tak heran bila kita temui sosok-sosok guru yang masih dikenang murid-muridnya meski ia telah pensiun, atau murid yang sungkem gurunya saat bertemu di jalan. Guru-guru seperti itu pasti telah memiliki penghargaan besar atas dedikasinya. Namanya harum, penuh wibawa dan apresiasi.

Kini, nyaris pudar penampakan tersebut di tengah-tengah masyarakat dalam dunia pendidikan. Entah luntur kemana sikap hormat dan menghargai seorang guru. Sosoknya kini lebih dianggap tak ubahnya sekedar pemberi jasa di sekolah-sekolah. Didatangi hanya bila diperlukan untuk mengisi lembaran rapot. 

Faktor Pemantik
Di Indonesia sendiri, terdapat Undang-undang yang mengatur dunia pendidikan. Ada beberapa diantaranya yang bisa menjadi bahan kajian. Pertama, ada UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menjadi landasan legal bagi guru dan dosen memberikan pendidikan. Kedua, terdapat pula UU No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang dapat dijadikan landasan bagi anak untuk melakukan keberatan hukum atas apa yang terjadi padanya.

Kedua UU ini menurut sejumlah pakar politik dinilai bias. Bukan tidak mungkin dikatakan dapat menimbulkan dilema dalam proses pendidikan. Sebab kedua undang-undang tersebut saling tumpang tindih antara satu dengan yang lain.

Dalam aplikasinya di dunia pendidikan pun, Guru lebih sering dihadapkan pada situasi sulit menghadapi kondisi siswa yang tak mudah diatur, tidak disiplin, tidak punya rasa hormat dan berani kepada guru. Jika tidak diberikan tindakan yang tegas, akan membuat siswa semakin bebas dan berani. Jika diberikan tindakan tegas (hukuman), guru digugat bahkan dikriminalkan oleh siswa maupun wali siswa.

Akar Problematika
Kurikulum Pendidikan yang berlandaskan asas sekulerisme ialah akar penyebab terjadinya ketidakharmonisan antara guru dan murid. Asas ini berpadu kuat dengan liberalisasi dan gaya hidup hedonistik. Tak hanya sampai disitu, adanya HAM juga mempengaruhi perilaku siswa. 

Hak Asasi Manusia menjadi alasan yang dipergunakan bagi siapapun saat melakukan pembelaan diri bahkan menjadi legalisasi untuk melakukan tindak kekerasan dengan dalih hal tersebut merupakan bagian dari Hak asasinya sebagai peserta didik.

Para peserta didik yang diberikan pendidikan yang mengesampingkan pendidikan agama, berbuah semakin sulit diatur. Inikah yang menjadi hasil dari sekularisasi di dunia pendidikan. Berpendidikan tetapi krisis moralnya menghormati guru.

Solusi Islam Kaffah
Itulah imbas yang terjadi di bawah sistem sekuler yang menjauhkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Pendidikannya tidak lagi merefleksikan cita-cita dan harapan. Berbalik menjadi api dalam sekam yang membakar habis moralitas anak bangsa penerus generasi.

Bandingkan dengan cara Islam mengatur dunia pendidikannya yang hanya berasas kepada hukum syariat. Islam menghargai betul peran guru. Islam pun mengatur bagaimana menghormati dan memperlakukan guru sebagai pendidik yang memberikan pengaruh besar dalam membentuk kepribadian siswa. Islam menempatkan guru sebagai pusat ilmu bagi perkembangan dan perbaikan komunal yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Dalam rangka mencetak siswa yang berkualitas dan memiliki syakhshiyyah unggul, Islam mewajibkan adanya sinergi antara guru dan orang tua. Islam akan memberikan tuntunan dan jalan keluar pemecahan masalah terhadap orang tua dalam memberikan dukungan moral kepada guru sebagai mitra dalam mendidik anak-anak mereka.

Selain itu, keberadaan pilar Negara sebagi kontrol sistem utama, tidak berlepas diri dalam hal ini. Islam juga memastikan peran negara dalam menerapkan syariat. Baik berupa panduan kurikulum tersistematis, dukungan dan penghargaan bagi guru sehingga dapat mendiidik secara optimal.(*)
Penulis: Murni Arpani (Ko. Tim Media MHTI Penajam Paser Utara)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website