Kebijakan Full Day School Mengancam Generasi

NU Online -Nahdatul Ulama menanggapi serius persoalan Full Days School (FDS) yang diberlakukan melalui Permendikbud. Ditingkat pusat, PBNU telah mengintruksikan kepada PWNU dan PCNU untuk menolak kebijakan tersebut. Menurut Ketua PBNU Bidang Hukum H. Robikin Emhas, bagi NU, persoalan FDS ini serius sekali dan tak ada tawar-menawar.
Siti Nur Soffiya Yani
"Permendikbud itu kabarnya, mau dievaluasi melalui Perpres yang di dalamnya ada norma yang diatur, diantara FDS itu diterapkan secara optional (pilihan); artinya bagi yang sudah siap, silahkan diterapkan. Bagi yang tidak, ya silahkan," jelasnya di gedung PBNU, Jakarta, Rabu (9/8). Namun, kata alumnus Pondok Pesantren Qiamul Manar Gresik dan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang, itu berdasarkan pengalaman di lapangan, seluruh regulasi, meskipun sifatnya optional, pelaksanaanya sangat bergantung pada pemikiran orang yang melaksanakannya.
Sehingga meski Perpres mengatur optional, bisa saja di lapangan dipaksakan untuk diterapkan. "Nah, NU tidak ada tawar-menawar sama sekali. Tidak. FDS no. Optional sekali pun tidak. Seandainya Perpres itu ditetapkan dan isinya seperti Permendikbud yang ada sekarang, sikap NU jelas akan tetap menolak. Alasannya, berdasarkan hasil penelitiannya Setara Institut, Wahid Institut dan penelitian-penelitian lembaga indenvenden lain, bahkan Kemenag, tumbuhnya radikalisme dan intoleransi di sekolah-sekolah umum sudah pada 6,8 persen. "Itu angka yang sangat mengkhawatirkan. Pihak yang berandil besar menumbuhkan anak hingga 6,8 persen itu, adalah mereka yang selama ini mengusung gagasan-gagasan Islam formal.
Kebijakan FDS masih menuai reaksi pro kontra. Kali ini madrasah diniyah (madin)  dan pesantren yang merasa terancam keberadaannya  (eksisitensi, program dan SDM dengan pemberlakuan FDS. Akhirnya Presiden  mengeluarkan perpres yang memberi kelonggaran/ pilihan pada sekolah untuk memberlakukan atau tidak. Ini menegaskan bahwa kebijakan sepenting itu tidak diawali dengan  pertimbangan dan perencanaan matang. Juga tidak diiringi dengan gambaran implementasi yang utuh dan jelas yang diketahui semua pihak di masyarakat. Akibatnya, begitu mudah juga pemerintah merevisi kebijakannya. Sekolah seharusnya menjadi sarana untuk anak mampu mengapresiasikan kemampuan belajarnya, dahulu sekolah memiliki batas waktu dengan batas jam yang sesuai. Anak pulang bisa istirahat, bermain dll.
Tapi saat sekarang mulai diterapkan sebuah peraturan baru yakni Full Day School. Sistem waktu pembelajaran ditambah jam waktunya, tidak tanggung-tanggung dari pagi hingga sore, seharian penuh  anak-anak harus tetap berada di sekolah dengan pelajaran sekolah yang cukup menguras waktunya untuk beristirahat, bahkan melampaui batas konsentrasinya.
Anak-anak dipaksa bagaikan robot, full day school ini justru tidak akan bisa membuat anak menjadi baik, yang ada malah membuat daya konsentrasinya akan menurun sebab waktu konsetrasi daya pikirnya yang terbatas, dipaksa untuk berkegiatan belajar di sekolah. Bisa dipastikan hal ini pasti akan berdampak buruk bagi perkembangan anak ke depannya, bagaimana tidak pulang sekolah sudah kelelahan tidak ada waktu untuk rileks sejenak dari hiruk pikuk pembelajaran, belum lagi tugas pembelajaran yang dibawa dari sekolah, cukup menyita jam istirahatnya saat di rumah.
Itulah dampak negatif yang dihasilkan dari penerapan Full Day School yang tidak baik untuk diterapkan. Kebijakkan Full Day School ini merupakan kebijakkan yang kurang tepat, sebab dari isi kebijakkan itu sangat jauh dari penerapan yang sesuai kebutuan pelajar, akibatnya tidak sesuai dengan fakta di lapangan pendidikan, sehingga pada sebagian masyarakat yang memahami hal itu dengan baik mereka menolak kebijakkan Full Day School tersebut. Pemerintah telah memperlakukan anak-anak generasi penerus sebagai kelinci percobaan. Belum lagi masih kaburnya konten pendidikan karakter yang melatarbelakangi lahirnya kebijakan ini, dikhawatirkan bukan memperbaiki perilaku (islami) generasi tapi makin menguatkan.
Di dalam Islam hal ini sangat- sangat diperhatikan, apalagi yang menyangkut dengan masa depan generasi yang merupakan penerus di masa depan. Untuk membuat anak bisa tumbuh berkembang dengan baik memang dengan cara belajar, memberikan pembelajaran-pembelajaran, hanya saja yang perlu diingat dari pendidikan yang baik adalah dengan pendidikan yang normal sesuai kemampuan anak, yakni memperhatikan muatan-muatan materi pembelajaran, situasi pendidikannya dalam sekolah dan waktu pembelajaran yang sesuai.
Anak mempunyai hak untuk diberi masa istirahat lepas dari pembelajaran sekolah, hal itu  untuk memenuhi haknya untuk leluasa bermain, bercengkarama  dengan lingkungan sekitar, bersapa interaksi dengan orang tuanya dalam kegiatannya di rumah. Mendapatkan pendidikan langsung dari orang tuanya di rumah, itu dapat membantunya berkembang secara daya pikir, karakter, kepribadiannya tentunya juga dengan pendidikan islam. Dengan begitu akan tercipta generasi terbaik yang cerdas harapan di masa depan.(*)
Penulis: Siti Nur Soffiya Yani

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website