Rohingya Derita Tanpa Akhir

Belum kering air mata kepedihan, telah mengucur pula air mata, dan luka yang masih menganga telah pula disiram air jeruk. Alih- alih disembuhkan, malah ditambahkan deritanya. Begitulah nasib etnis Rohingya. Dunia mengetahui hal ini tetapi mereka terdiam seribu basa. Pemimpin- pemimpin negri muslim seolah olah menutup mata dan telinga mereka. Hanya retorika-retorika dingin yang mereka lontarkan tanpa ada aksi nyata.

UN (PBB) hanya memandang tanpa bersuara, kalaupun ada hanya himbauan yang tidak solutif. Pada Senin (30/7/2012) mengirim Tomas Ojea Quintana ke Myanmar (Liputan6.com)  membicarakan masalah ini tapi hasilnya nihil. Pembantaian terus berlangsung, hal ini dikemukakan oleh salah seorang utusan PBB Yanghee Lee yang menangani soal hak asasi manusia di Myanmar berbicara kepada BBC mengatakan bahwa situasinya “ jauh lebih buruk” dari yang ia bayangkan. 

Dokumentasi


Kami ingin mengatakan bahwa ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Benar-benar kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh orang-orang Burma, militer Myanmar, petugas penjaga perbatasan, atau polisi atau pasukan keamanan”. 

Selanjutnya ia mengatakan ada masalah pelanggaran “sistemik” dalam tubuh pasukan keamanan  Burma dan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi harus bertanggung jawab. 

Ia mengemukakan rasa kecewa tidak adanya upaya pemerintah mengatasi akar masalah yang memicu kekerasan antara Budhisdan Muslim di negara bagian Rakhine (voaindonesia.com)

Utusan PBB ini dengan gamblang menyatakan bahwa ada kejahatan terhadap kemanusiaan, tapi apa yang dilakukan oleh Dunia khususnya PBB, bukannya mengirimkan pasukan untuk mengakhiri genosida ini, tetapi hanya beretorika di balik meja-meja mereka.

Apa salah suku Rohingya, dan darimana asal mereka?
Rohingya adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine (juga dikenal dengan nama Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya) di Burma. Menurut sejarah, komunitas Muslim telah mendiami wilayah Arakan (nama kuno Rakhine) sejak masa pemerintahan seorang raja Buddhis bernama Narameikhla atau Min Saw Mun (1430-1434) di kerajaan Mrauk U.
Setelah diasingkan selama 24 tahun di Kesultanan Bengal, ia mendapatkan takhta di Arakan atas bantuan Sultan Bengal saat itu. ia membawa serta orang-orang Bengali untuk tinggal di Arakan dan membantu administrasi pemerintahannya, demikianlah komunitas muslim  pertama terbentuk di wilayah itu. Pada abad ke-17 populasi Muslim meningkat, tetapi kerukunan dan keharmonisan tetap terjalin dengan baik.
Namun hal ini tidak berlangsung lama, pada tahun 1785 kerajaan Burma dari Selatan menyerang dan menguasai Arakan. Mereka menerapkan politik diskriminasi dengan mengusir dan mengeksekusi orang orang Muslim Arakan. Pada tahun 1799 sebanyak 35.000 orang Arakan mengungsi ke wilayah Chittagong di Bengal yang saat itu dikuasai Inggris untuk mencari perlindungan. Orang-orang Arakan tersebut  menyebut diri mereka Rooinga (penduduk asli Arakan), yang kemudian dieja menjadi Rohingya saat ini.
Pada awal abad ke-19 gelombang migrasi dari Bengal ke Arakan semakin meningkat karena didorong oleh kebutuhan akan upah pekerja yang lebih murah yang didatangkan dari India ke Burma. Seiring waktu jumlah populasi para pendatang lebih banyak daripada penduduk asli sehingga tak jarang menimbulkan ketegangan etnis.
Pada tahun 1939 konflik di Arakan memuncak sehingga pemerintah Inggris yang notabene adalah penguasa daerah tersebut membentuk komisi khusus yang akan menyelidiki masalah tersebut. namun hal ini belum sempat direalisasikan karena Inggris harus angkat kaki dari Arakan karena Jepang menyerang Burma.
Selepas Perang Dunia ke-2, Rohingya sempat mendirikan negara sendiri. namun, tidak ada negara yang mau mengakui kedaulatannya (hartonocen.blogspot.com melalui Asnida Riani). Pada tahun 1962 terjadi kudeta, sehingga muncul operasi militer terhadap suku Rohingya. Salah satu operasi yang paling terkenal, yakni “Operasi Raja Naga”, akibatnya 200.000 suku Rohingya mengungsi ke Bangladesh (sisidunia.com).
Konflik Horizontal Antar Agama
Ternyata bukan hanya ditekan oleh militer dan pemerintahan  Birma. Etnis Rohingya pun menjadi sumber konflik horizontal antar agama (wordpress.com). tokoh pemuka agama Budha sudah mulai ikut melakukan intervensi .
Disejumlah titik sekelompok biksu mengeluarkan selebaran berisi peringatan kepada warga Myanmar untuk tidak bergaul dengan Muslim Rohingya. Sementara selebaran lainnya  berisi rencana untuk memusnahkan kelompok etnis lain di Myanmar.
Hal ini bertambah rumit ketika dua organisasi biksu terbesar di Myanmar, Asosiasi Biksu Muda Sitwee dan Asosiasi Biksu Mrauk Oo menyerukan agar warga Myanmar tidak bergaul dengan Muslim Rohingya.
“Muslim Rohingya bukanlah kelompok etnis Burma. Mereka akar penyebab kekerasan,” kata biksu Ashin Htawara dalam sebuah acara di London (wordpress.com). 
Jadi apa kesalahan etnis Rohingya hingga mereka tertolak di negri nenek moyang mereka di mana nenek moyang mereka lahir, tumbuh dan besar. Apa karena mereka Muslim, berkulit berbeda dengan penduduk Myanmar lainnya yang bercorak Tibet? Mengungsi ke Bangladesh mereka di tolak, negri yang terdekat yang diharapkan mampu melindungi tetapi apa lacur justru mereka dikirim balik ke Myanmar bagai sampah tak berguna.

Inilah nasib kaum Muslim di muka bumi Allah di manapun mereka berada, selalu terzalimi terus menerus tanpa henti. Ketika hukum Allah ditinggalkan, maka hanya kesempitan yang kita dapatkan. Barokah Allah hanya bisa diraih tatkala hukum Allah dipergunakan untuk mengatur semua sisi kehidupan bukan hanya penerapan hukum sebagian yang hanya mengambil asas manfaat.
Dan ketika ummat Islam tidak memiliki kepemimpinan yang satu, yang mampu melindungi ummat dari kezaliman dan genosida dan menghalau para mafia-mafia kemanusiaan yang serakah dan lapar akan harta ummat Islam, maka sampai kapanpun masalah ini tidak akan tuntas. Wallahua’lam.(*)
Penulis: Neny Rusdiana Tiro
  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website