Ada Apa Dibalik, Minyak Mentah Curah?

BALIKPAPAN-Pasca terjadinya kebakaran hebat akibat tumpahan minyak di sekitar teluk Balikpapan, Sabtu (31/3/2018) lalu. Mengakibatkan dua kapal ikut terbakar dan memakan korban, 5 (lima) nelayan meninggal dunia.  

Kawasan ledakan minyak di teluk Balikpapan merupakan area operasional RU V Pertamina Kalimantan. Sebagaimana realess disampaikan melalui humas RU V Pertamina, membenarkan adanya tumpahan minyak. Melakukan penyelidikan dan uji laboraturium serta melakukan koordinasi dengan Pertamina Hulu Mahakam berikut Chevron, hingga kini penyebab kebakaran hebat itu belum diketahui. Mengakibatkan, hitamnya langit Balikpapan saat itu.
Foto: Hery Sunaryo LSM Stabil (dok./jb)
 
Program Officer LSM STABIL Balikpapan Hery Sunaryo mengecam kejadian tersebut. Penanganan tumpahan minyak terjadi di kawasan teluk Balikpapan, menguras energi. Bahkan, pemkot Balikpapan terkesan gagap dan gugup menangani kejadian itu, dengan volume cukup besar.

Hery mengungkapkan, peristiwa tumpahan minyak, bukan kali pertama terjadi, sebelumnya 2015-2017 kejadian sama. Setiap kejadian pemerintah menerima kritikan tajam dari masyarakat, namun tanpa penanganan serius.

“Hal yang sama juga kembali terjadi, puncaknya apa yang dikhawatirkan ratusan ribu penduduk kota Balikpapan terjadi 31 maret 2018, tumpahan minyak berskala besar tumpah ruah kelaut teluk Balikpapan,” geram Hery. 

Selain menelan korban jiwa, habitat biota laut juga terganggu. Bahkan, beberapa ikan pesut, mati terdampar di pinggir pantai. Pesut merupakan salah satu jenis ikan dilindungi dan harus dilestarikan.  

“Matinya beberapa jenis mamalia laut yang harusnya dilindungi, akibat tercemarnya air laut dengan minyak mentah tersebut. Demikian juga dengan udara dan bau menyengat, sangat mengganggu kesehatan masyarakat, dampak negatif akibat tumpahan minyak tersebut, akan berbahaya lagi bila hal itu tidak dilakukan penanganan serius,” ungkap Hery.

“Penanganan terhadap upaya sebaran tumpahan minyak penanggulangannya menghadapi banyak tantangan. Baik sarana dan fasilitas akan dipakai, termasuk anggaran, sehingga sampai saat ini belum terselesaikan secara tuntas,” jelasnya.

Ia menambahkan, ibarat pepatah, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Sebaran tumpahan minyak sudah mendekati pemukiman warga. Sepanjang pesisir pelabuhan Semayang hingga pantai Monpera.

Menanggapi peristiwa tumpahan minyak tersebut, sebagaimana dalam konstitusi, Pasal 28H UUD 1945 ini sudah tidak sesuai. Menerangkan “Menikmati lingkungan hidup yang baik dan bersih adalah hak asasi manusia.”

Hery Sunaryo menegaskan, pemerintah sebagai pelaksana tugas negara wajib untuk mewujudkan lingkungan hidup yang adil, baik, bersih, dan lestari. Dengan penegakan hukum atas para pelaku perusak lingkungan.

Bahkan lebih tegas lagi Hery menyampaikan, peristiwa tumpahan minyak tersebut, sangat jelas memenuhi unsur pidana lingkungan. Dapat dikenakan sangsi, sebagaimana disebutkan dalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, berdasarkan Pasal 60 jo. Pasal 104 UU PPLH. 

Untuk diketahui sebagaimana Pasal 60 UU PPLH; “Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin.”  dan Pasal 104 UU PPLH: “Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).”

Ketika ada kelalaian didalam Undang-undang tersebut, juga disebutkan  pada Pasal 98 dan Pasal 99, yaitu; Setiap orang yang dengan sengaja atau kelalaiannya melakukan:
(1).Perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. (2). Perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup dan mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia.(3). Perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup dan mengakibatkan orang luka berat atau mati.
Foto: Srihana Komisi II DPRD Balikpapan (dok./jb)
Senada disampaikan anggota Komisi II DPRD Balikpapan Srihana, tumpahan minyak di teluk Balikpapan, secepatnya dilakukan penanganan serius. Kondisi air laut yang tercemari akibat minyak itu akan mengganggu ekosistim biota laut.

“Tidak sebatas prihatin saja, harus ada upaya agar segera dilakukan penanganan. Dampaknya pada kehidupan biota laut, terlihat beberapa ikan pesut mati keracunan akibat tumpahan minyak tersebut,” ungkap fraksi Demokrat itu.

Sementara Direktur PT. PHM (Pertamina Hulu Mahakam) Ida Yusmiati melalui pesan singkatnya, Senin (2/4/2018) menyampaikan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak lain, yang beroperasi di area dampak kejadian tersebut. Termasuk RU V Pertamina Balikpapan dalam mengatasi dampak kecelakaan dan mencegah agar dampak tersebut tidak meluas.(ay)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website