Pandangan Cendikiawan, dengan Program Dasacita

Minggu, 22 April 2018
SAMARINDA- Satu lagi cendikiawan mengkritisi Dasacita yang menjadi program andalan “Kaltim Bermartabat” yang diusung pasangan calon nomor 4, Rusmadi-Safaruddin. Menurut Dana Adisukma, ST,.M.Si, Pakar Tata Ruang yang berdomisili di Samarinda, ada risiko besar program tersebut tidak dapat diwujudkan jika konsep tata ruang wilayah Kaltim tidak dilakukan dengan benar.

Menurut alumni Magister Geografi UGM ini, RPJMD merupakan instrumen perencanaan terpenting di daerah, dimana di dalamnya dimuat implementasi visi misi Kepala Daerah ke dalam Kebijakan Rencana dan Program (KRP) beserta pembiayaannya. Visi dan misi ‘Kaltim Bermartabat’ jika Rusmadi-Safaruddin menjadi gubernur dan wakil gubernur, maka masuk sebagai KRP daerah.
Foto: Dana Adisukma (dok/jb)
Program itu seperti tertuang dalam Dasacita, yakni Kaltim Aman tanpa korupsi, Kaltim Religius, Kaltim Cerdas, Kaltim Sehat, Kaltim Swasembada Pangan, Kaltim Kreatif, Kaltim Lestari, Kaltim Mulus dan Kaltim Tanpa Banjir dan Kaltim Membangun Desa.

Jika benar benar perencanaan tata ruang adalah semangatnya otonomi daerah, kata Dana, perencanaan dari bawah atau bottom up berbasis masyarakat harusnya segera disahkan oleh pemerintah pusat.

”Tapi faktanya tidak, kementrian di pemerintah pusat memiliki kepentingan sendiri dan mengabaikan, daerah yang katanya sudah otonom,” katanya.

Banyak contoh yang membuat terjadinya benturan pusat-daerah.Menurut dia, UU Tata Ruang nomor 26 Tahun 2007 masih menyisakan persoalan tidak berujung dan sulit diselesaikan, karena kepentingan berbagai  kalangan. 

“Misalnya, RTRW Kaltim  menempatkan kawasan tertentu sebagai kawasan permukiman, ternyata tidak disetujui oleh kementrian, karena kawasan yang sama merupakan kawasan pertambangan,” katanya.

Ditambah lagi dengan terbitnya  Permendagri No 7 tahun 2018 tentang Pembuatan dan Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)  dalam Penyusunan RPJMD. Aturan itu jelas makin mempersulit posisi gubernur, bupati dan walikota dalam menetapkan tata ruang yang berbasis kepentingan daerah.

“Sejauh ini UU 2007 maupun Permendagti 2018 ini  bertujuan untuk mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan. Hanya secara pengukuran, indikator yang ada dalam  KLHS merupakan ruang bergaining,” katanya.

Itu sebabnya Dana menyebut Dasacita Rusmadi-Safaruddin penuh tantangan di depan. Terutama dari pemerintah pusat yang punya agenda yang sering bertentangan dengan perencanaan daerah.

“Semua itu akan jadi slogan semata, jika tata ruangnya tidak menjadi panglima pembangunan dan jika tidak memasukkan sosial engineering sebagai upaya memanusiakan manusia dalam perencanaan,” ujarnya. Apalagi kalau dalam proses perencanaannya tidak melibatkan stakeholder.

Dalam pandangan Dana Adisukma, tata ruang tidak hanya diterjemahkan sebagai produk hukum, atau hukum tata ruang. Sosial engineering atau rekayasa sosial sangat diperlukan sebagai upaya memasukkan aspek  manusia dalam subyek tata ruang. 

Menurut pakar ini, kreatifitas dan inovasi serta keberanian, political will pasangan Rusmadi-Safaruddin  lewat Dasacita yang paling memungkinkan untuk mengakselerassikan kepentingan tata ruang wilayah dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan seperti aspek  ke 10 dalam Dasacita, Kaltim Lestari.

Ada beberapa pendapat, bahwa KLHS tidak perlu masuk dalam RTRW karena merupakan dokumen keharusan pembangunan berkelanjutan. Juga ada konsekuensi pembiayaan, karena selama ini implementasi KLHS dibiayai kementrian,

Kelemahan pelaksanaan KLHS, lanjutnya,  sebenarnya sudah menjadi catatan banyak pihak, oleh karena itu munculnya PP 46 Tahun 2016 sebenarnya bagian dari upaya perbaikan sistem KLHS, bahkan Kementrian LHK langsung menindaklanjutinya dengan menerbitkan Permen LHK No 69 tahun 2017 tentang  Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2016 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis.

“Tentu saja secara substansi lebih baik, tapi tampaknya perbaikan ini belum cukup menyakinkan Kemendagri bahwa RPJMD akan betul-betul mengarusutamakan pembangunan berkelanjutan. Nah saya yakin Cak Rus sangat paham ini, karena beliau lama di perencanaan dan memiliki nalar akademik mumpuni,” tambahnya.(#4TimMedia)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website