Paslon 4 Canangkan Kaltim Swasembada Pangan

Rabu, 11 April 2018

SAMARINDA-Keekonomian wilayah ternyata berbanding lurus dengan fungsi wilayah. Jika Kalimantan Timur ingin sukses mentransformaikan ekonomi paska tambang dan  beroreintasi ke pertanian dalam arti luas, maka harus mengembalikan fungsi lahan pertanian sesuai dengan tata ruang wilayah.

“Kuncinya menata kembali tata ruang wilayah sesuai dengan fungsinya dan penertiban lahan tambang,” kata Dona SH, praktisi pertanahan di Samarinda. Dia mengomentari pasangan Calon Gubernur Nomor 4 Rusmadi-Safaruddin, yang meluncurkan Kaltim Bermartabat dengan Dasacita, yang satu diantaranya adalah “Kaltim Swasembada Pangan”.
Foto: Dona SH, Praktisi Pertanahan (dok/jb)
Sasaran visi, tambah Dona memang harus ideal, yang tenpenting adalah pencapain visi itu diterjemahkan dalam misi capaian yang lebih rasional dan realistis. 

“Sayangnya departemen transmigrasi sudah tidak berfungsi, padahal transmigran diperlukan untuk menularkan mindset agriculture,”  katanya, seraya menambahkan di Kaltim, lahan bukan merupakan komponen produksi seperti di Pulau Jawa, tapi merupakan komponen investasi yang sewaktu waktu dapaat dijual.

Dalam Dasacita, aspek Kaltim Swasembada Pangan Rusmadi-Safaruddin mencanangkan pembangunan bendungan baru untuk pertanian, air minum, pembangkit listrik dan sertifikasi 10.000 bidang tanah.

Dalam UU Penataan Ruang Nomor 6 Tahun 2007  pada bab tiga, pasal 5 ayat 2 jelas menyebutkan Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas  kawasan lindung dan kawasan budidaya. 

“Nah jika Rusmadi-Safaruddin meletakkan fungsi utama ruang adalah pertanian dalam arti luas, maka keruangan pertanian harus diletakkan pada porsi ruang utama, swasembada pangan,” katanya.

Lalu  pasal 6, Penataan ruang diselenggarakan dengan  memperhatikan (a)  kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana, (b) potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan; kondisi ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu kesatuan; dan (c)  geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.

“Nah point C pasal 6 ini kewenangannya adalah di tangan gubernur, bupati dan walikota. Ini yang saya sebut program Dasacita, sangat mungkin dilakukan oleh orang tepat, mengerti aspek tataruang dan memiliki nalar perencana,” tandasnya.

Potensi kawasan cetak sawah baru masih cukup luas, yakni 220.946,63 hektare atau sekitar 79,47 persen. Jumlah tersebut tentu mampu mendongkrak produksi padi Kaltim, bila dikelola dengan benar. Dengan adanya irigasi yang baik, maka sangat mendukung swasembada pangan. 

“Ini kan nyambung dengan program Kaltim Swasembada Pangan,” tambah Dona

Menurutnya, saat ini, kawasan potensial pertanian itu justru berada di kawasan pertambangan batubara. “Itu sebabnya penataan ruang dan mengembalikan potensi pertanian perlu segera dilakukan,” tambahnya.

Sedangkan kebutuhan konsumsi beras pertahun Kalimantan Timur, dari data Dinas tanaman Pangan dan Hortikultura tercatat rata rata hampir 400 ribu ton. Pada tahun 2015 kebutuhannya 387.233 ton. Kenyataannya produksi gabah kering giling (GKG) hanya 408.782 ton. Atau setara dengan 261.212 ton. 

“Dari data ini, kan ada defisit beras 126.021 ton,” kata Dona. 

Kondisi ini kelak, hanya bisa diperbaiki jika ada political will dari pemerintahan Rusmadi-Safaruddin nantinya, jika peruntukan lahan pertanian benar benar direncanakan dengan baik.

Sudah barang tentu, katanya, irigasi teknis perlu dipacu juga. “ Saya tidak mengetahui apakah potensi air Sungai Mahakam dapat dijadikan pengairan  sawah. Air kita berlimpah. Kenapa kita tak manfaatkan Sungai Mahakam. Ya, air ini harus mampir sawah dulu sebelum mengalir ke laut, tapi sekali lagi saya tidak mengerti, karena pengetahuan dan ilmu saya bukan pengairan,” jelasnya.(#4TimMedia)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website