Pemkot dan Polres Harus Tegas Terhadap Pembuang Limbah Minyak

Minggu, 22 Juli 2018
BALIKPAPAN-Kejadian tumpahan minyak kembali terjadi di pesisi Pantai Melawai, Balikpapan, Sabtu (21/7/2018).
Foto: Hery Sunaryo Koordinator STABIL.(dok/jb)
Tumpahan ini berulang kali terjadi di Balikpapan belum hilang dari ingatan kita. Saat terjadinya tumpahan minyak di Teluk Balikpapan hingga menelan 4 (empat) orang korban jiwa, pada Maret 2018 lalu.

Koordinator Perkumpulan STABIL Balikpapan Hery Sunaryo menegaskan, dampak dari tumpahan minyak sebelumnya telah merusak ekosistem laut kita.

Menurutnya, tumpahan minyak di Teluk Balikpapan sebelumnya, saat itu Plt. Walikota Balikpapan Rahmad Masud, juga seorang pengusaha minyak diajak warga masyarakat untuk ikut melakukan gugatan hukhukum. Namun, beliau  tidak mau melakukan upaya proses hukum, dengan alasan bahwa orang-orang yg terkena dampak korban dari tumpahan minyak akan diberi kompensasi.
Foto: Tumpahan minyak pesisir Pantai Melawai.(dok/jb)
Ia menambahkan, saat ini peristiwa tumpahan minyak ini terjadi lagi, dan hal ini jelas menggambarkan bahwa pengawasan terhadap lingkungan khususnya di wilayah perairan kota Balikpapan  sangat lemah. 

"Melihat kejadian pencemaran lingkungan di laut pesisir kota Balikpapan berupa limbah tumpahan minyak yang terjadi berulang kali. Maka bisa jadi pelaku pembuang minyak sengaja membuang limbah minyaknya ke laut dikarenakan mereka fikir tidak ada sangsi terhadap pembuang limbah di laut," jelasnya.

"Atau pelaku sengaja membuang limbah di laut dikarenakan  selama ini menganggap tidak ada aturan hukum yg mengatur tentang hal tersebut," ungkap Hery.

"Pelaku berfikir sudah berulang kali dia lakukan di perairan Balikpapan belum pernah ada yg melakukan gugatan hukum terhadap dirinya atau usahanya," geramnya.

Hery mengungkapkan, bisa jadi pelaku pembuang limbah tersebut berfikir dari pada repot-repot mengelola limbah minyaknya lebih baik buang ke laut.  

Ia kembali menegaska , pemerintah kota Balikpapan, beserta kepolisian Balikpapan walaupun tahu pasti tidak akan melakukan proses hukum paling hanya rame di media saja. Karena kejadian ini sudah berulang kali.

"Untuk itu kami juga dengan kondisi yg serba terbatas,  sedang melakukan investigasi terhadap pelaku pembuang limbah ini yg kemudian kita akan buat proses gugatan terhadap pelaku pembuang limbah sebagai proses efek jera agar mereka tidak mengulangi lagi," bebernya.

"Jujur saja kami masyarakat Balikpapan punya trauma mendalam terhadap pencemaran tumpahan minyak ini. Rasa trauma kami terhadap tumpahan minyak di wilayah Teluk Balikpapan yg terjadi belum lama ini jangan sampai terulang lagi.

"Maka penting agar pemkot Balikpapan dan juga kawan-kawan kepolisian Polres Balikpapan. Untuk memproses secara hukum pelaku pembuang limbah minyak ini agar kedepan tidak terjadi lagi," cetusnya kembali.

"Sangat jelas ancaman Pidana Bagi Perusahaan Pelaku Pencemaran Lingkungan," ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan peristiwa yang terjadi ada beberapa ancaman pidana yang bisa diterapkan terhadap pelaku  menurut UU 32 tahun 2009 tentang PPLH.

Jika perusahaan tersebut sengaja membuang limbah ke laut maka dapat diancam pidana berdasarkan Pasal 60 jo. Pasal 104 UU PPLH sebagai berikut:

Pasal 60 UU PPLH:

Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin.

Pasal 104 UU PPLH:

Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
Penulis: Ahmad yani
Editor: Redaksi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website