GENERASI DARURAT NARKOBA

Permasalahan narkoba bak gunung es tak kunjung selesai, berbagai macam upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah peredaran narkoba di Indonesia termasuk di kota Balikpapan. Namun upaya tersebut bukannya meminimalisir pengedaran narkoba, tetapi malah sebaliknya pengedaran narkoba semakin massif.

 Salah satu upaya yg di lakukan oleh pihak kepolisian menjelang natal dan akhir tahun pengedaran narkoba semakin meningkat. Untuk itu, kepala BNNK Balikpapan Kompol muhammad Daud menyatakan pihaknya mesti ekstra kerja keras terutama mengawasi pergerakan narkoba yg cenderung memiliki potensi besar masuk ke Balikpapan di akhir tahun.
Foto: Ilustrasi
  
Untuk mewaspadai penyelundupan narkoba, dengan menempatkan personel di tempat-tempat operasi interdiksi baik di darat, laut dan udara ( Tribun Kaltim 1/12 2018). 

Penyelundupan narkoba yang berhasil masuk ke Indonedia lebih besar di banding keberhasilan aparat membongkar kasus-kasus seperti ini, kata mantan direktur pejabat Badan Narkotika Nasional (BNN), Benny jozua mamoto (BBC 26/02/2018). 

Hal ini menunjukkan  bahwa Indonesia masih merupakan wilayah sasaran penyelundupan jaringan narkoba  internasional, karena permintaan komsumsi masih tetap tinggi. Di sisi lain, pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan Sri mulyani, tidak memungkiri bahwa Indonesia saat ini mendapatkan “banjir narkoba’ yang tiap hari terus meningkat.

Wajar jika dikatakan bahwa Indonesia adalah merupakan surga bagi peredaran narkoba, karena melihat permintaan komsumsi yang naik terus, harga yang bagus dan hukum bisa di beli. Padahal setiap tanggal 26 juni di peringati hari Anti Narkotika Internasional (HANI), dan tahun 2018 ini ada 2 tema besar yang di angkat oleh BNN. Tema pertama adalah ‘ Listening First-Listening to Children and Youth is The first Step to Help Them Grow Healty and Safe”. 

Dan tema kedua adalah ‘ Menyatukan dan Menggerakkan Seluruh Kekuatan Bangsa dalam Perang Melawan Narkotika untuk mewujudkan Masyarakatnya Indonesia yang sehat tanpa Narkotika (Beritasatu, 5/07/2018).

Semakin banyak dan mudahnya narkoba masuk ke Indonesia membuat semakin banyak generasi yang menjadi pecandu barang haram ini. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat dari 87 juta populasi anak di Indonesia maksimal 18 tahun, sebanyak 5,9 juta yang tercatat sebagai pecandu. 

Di antaranya mereka jadi pecandu narkotika karena terpengaruh dari orang-orang terdekat dan modus yang sering di gunakan dalam memakai narkoba adalah mengerjakan tugas sekolah atau belajar Bersama. 

Dan sebagian dari mereka juga menjadi pengedar narkoba dengan memberikan makanan dan minuman yang sudah dicampur dengan barang haram tersebut (okezone.com 06/03/2018).

Dalam sistem kapitalis narkoba bukan dianggap sebagai barang haram yang harus dimusnahkan karena dapat merusak generasi sebagai pelanjut estapet perjuangan bangsa. Melainkan dijadikan sebagai komoditas bisnis yang sangat menguntungkan dan menggiurkan. Bahkan menjadi kebutuhan pokok sehingga terus menerus di produksi dengan berbagai macam bentuk dan cara pengedarannya, termasuk dengan berbagai macam cara pula mereka menyelundupkan narkoba, dengan melalui jalan darat, laut dan udara. 

Permasalahan narkoba ini tidak akan pernah kunjung selesai, karena upaya yang di lakukan tidak menyentuh akar permasalahan, sehingga masih saja ada cara bagi para penyelundup narkoba untuk bisa memasukkan barang haram ini ke Indonesia. Salah satunya adalah bahwa hukum di Indonesia bias dibeli. 

Sanksi yang di berikan baik kepada pelaku dan pengedar narkoba tidak memberi efek jera bagi mereka, sehingga mereka tetap saja bisa memakai dan menjual barang haram ini.  

Islam sebagai agama yang sempurna yang mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan kehidupan karena hukum Islam bersumber dari Dzat yang menciptakan manusia. Islam memandang bahwa narkoba adalah benda haram yang harus di jauhi dan d buang dari kehidupan manusia. 

Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar dapat mengentaskan masalah narkoba secara tuntas, yaitu menciptakan pola hidup takwa melalui 3 level. 

Pertama level individu, meningkatkan ketakwaan setiap  individu dengan memahamkan bahwa mengkomsumsi, mengedarkan dan memproduksi narkoba adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT.

Kedua level masyarakat untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar sebagai kontrol sosial, dan memahami bahwa narkoba benda haram yang dapat merusak generasi dan umat manusia.

Ketiga level negara, menegakkan hukum pidana Islam dengan memberikan hukuman yang berat bagi pengguna narkoba dapat dipenjara sampai 15 tahun atau dikenakan denda yang besarnya diserahkan kepada Qadhi (hakim) ( AlMaliki. Nidzom al uqubat, hlm 189). Begitu juga dengan pengedar dan yang memproduksi narkoba di berikan hukuman yang berat sehingga akan membuat efek jera bagi para pelakunya.

Jika pola hidup takwa ini di terapkan didalam kehidupan manusia, bukan hanya masalah narkoba, tetapi masalah-masalah yang lain juga dapat di selesaikan. Wallahu A’lam Bisshowab
Penuldi: Siti Rima Sarinah Spd.i  (pemerhati generasi)






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website