Menganggap Dirinya Miskin Terindikasi Pelaku Korupsi

Sudah tidak asing lagi kasus korupsi di Indonesia, Dari sabang sampai marauke hampir dipastikan terkena dan terlibat kasus korupsi.
Foto: Achmadi Fadillah
Sehingga warga Indonesia  tidak tabu lagi mendengar kasus korupsi di Indonesia. Rabu, 19/12/2018 Detik News menerbitkan berita berjudul, "KPK Tangani 178 Kasus Korupsi di 2018, Terbanyak Libatkan Legislatif". 

Artinya sampai detik ini indonesia masih digandrungi Korupsi yang menghambat kemajuan Republik Indonesia itu sendiri.

Menurut para ahli Ansari Yamamah mengatakan, Bahwa ketika perilaku materialistik dan komsumtif masyarakat serta sistem politik yang masih mendewakan materi dapat memaksa terjadinya permainan uang dan korupsi (Ansari Yamamah : 2009). 

Dengan keadaan itu hampir dipastikan pelaku korupsi banyak yang mendewakan materi tanpa melihat orang disekitarnya, Pelaku itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah para pejabat, pemerintah daerah, Legislatif dan bahkan yang tergabung dalam posisi struktural. 

Jika ditarik benang merahnya, Bahwa masih banyak yang menganggap dirinya miskin, terbukti ditahun 2018 kasus korupsi berjumlah 178. 

Padahal kemiskinan bukan terjadi karena adanya rekayasa terstruktur manusia dengan korupsi, Melainkan kebiasaan dan paradigma manusia yang menganggap dirinya miskin ini yang sungguh sangat memiskinkan. Kita semua tahu hidup didunia ini berpasang-pasangan ada laki-laki dan perempuan, ada miskin dan kaya, dan sebagainya. 

Miris sekali bagi yang berkecukupan tapi masih menganggap dirinya miskin, sehingga pola pikir seperti ini dapat menjadikan perilaku kurang baik seperti, tamak,  serakah, dan tidak merasa puas. Padahal dia lupa menyadari bahwa dengan kondisi hidup seharusnya lebih bersyukur dengan pemberi hidup, yang memberikan nikmat dan rahmat-NYA sehingga kita masih merasakan bernapas dan jantung berdetak. 

Jika hasil yang tidak halal diberikan kepada keluarga, memberikan makan pada anak, maka akhlak anak menjadi buruk karena darah dagingnya berasal sumber yang salah. 

Oleh karena itu marilah kita berbuat baik demi kebersaman dan kejayaan Republik Indonesia, kemakmuran dan kesejahteraan milik kita bersama. 

Penulis: Achmad Fadillah (Sekretaris BEM STAI Balikpapan)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website