Hapus Materi Khilafah Guna Berantas Radikalisme, Bijakkah?

Belakangan ini Kementerian Agama (Kemenag) di opinikan akan menghapus materi khilafah dan jihad di pelajaran madrasah. Kemenag melalui surat edaran tertanggal 4 Desember memerintahkan Kepala Bidang Pendidikan Madrasah/Pendidikan Islam mengimplementasikan KMA Nomor 183 Tahun 2019. 

Salah satunya, seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan perang telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti. Sebagaimana ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.
Di tengah-tengah ramainya perbincangan tersebut, Menteri Agama Fachrul Razi mengkonfirmasi bahwa penghapusan tersebut tidaklah benar, melainkan akan dilakukan revisi terhadap kedua konten tersebut. Adapun bentuk revisi yakni memindahkan materi khilafah dan jihad dari mata pelajaran fiqh ke mata pelajaran sejarah.
"Itu hanya dipindahkan dari tadinya itu masuk ke fikih dipindahkan ke sejarah ya. Sejarah gak boleh hilang, tapi di (pelajaran) fikih gak ada lagi," ujar Fachrul di kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Senin (9/12/2019). (www.tribunnews.com/nasional/2019/12/09)
"Saya perlu menyampaikan bahwa konten khilafah dan jihad tidak dihapus sepenuhnya dalam buku yang akan diterbitkan. Makna khilafah dan jihad akan diberi perspektif yang lebih produktif dan kontekstual," kata Kamaruddin lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Minggu (8/12). (www.cnnindonesia.com/nasional/)
Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Kemenag tidak lain merupakan babak lanjutan dari sikap penguasa yang fobia terhadap islam guna meredam kebangkitan peradaban islam. 

Dengan dalih memberantas radikalisme, berbagai cara mereka tekuni demi memadamkan spirit islam ideologis. Mulai dari khilafah dianggap ancaman negara, kata kafir dianggap intoleran, cadar, celana cingkrang dan latihan memanah dituding radikal. Kini, khilafah akan direvisi dengan makna yang produktif dan kontekstual. Jelas sekali fobia akut sedang melanda jajaran sikap penguasa.
Pengubahan konten khilafah dan jihad menjadi lebih produktif merupakan tuduhan jahat dan mengarah pada penyesatan ajaran islam. Dari revisi tersebut seolah-olah ajaran islam kontraproduktif. Belum lagi revisi yang mengarah pada kontekstual akan menjerumuskan umat untuk fokus pada satu konteks dan mengabaikan konteks lainnya. 
Sesuai dengan keinginan Kemenag bahwa khilafah akan dibahas dari segi konteks sejarah. Pembahasan khilafah hanya dari segi sejarah justru rawan diterjemahkan ke arah pemahaman yang salah bila tidak diimbangi dengan materi akidah dan fiqh. 
Sebab bagaimanapun tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah peradaban islam memiliki sisi baik dan sisi buruk. Khilafah memiliki fakta sejarah yang gemilang semisal di masa khalifah Abdul Aziz yang mampu memberantas kemiskinan dalam waktu satu tahun.
 Tidak dipungkiri sisi kelam juga terjadi semisal di masa khilafah Turky Ustmani dimana mulai terjadi pelanggaran hukum syariat islam. Karenanya sejarah dalam pandangan islam tidak bisa dijadikan acuan dalam menentukan hukum. Sebaliknya yang harus diperhatikan dalam menentukan hukum adalah al-Quran dan as-Sunnah.
Sikap Kemenag merevisi konten khilafah dan jihad jauh dari kata bijak. Seharusnya sebagai bagian dari pemerintah Kemenag memberikan gambaran yang utuh dan syar’i mengenai khilafah. Hal pokok yang harus diajarkan adalah akidah dan fiqh. 
Seperti pembahasan mengenai kewajiban menerapkan syariat islam kaafah, definisi khilafah dan khalifah, syarat sah pengangkatan khalifah, ancaman bagi orang-orang yang mengambil hukum selain hukum Allah, metode dakwah rasulullah, dan seterusnya.

Kemudian  materi sejarah nanti akan menjadi hikmah-hikmah kehidupan untuk menjaga eksistensi peradaban islam. Sehingga umat mampu menilai sejarah islam dengan pandangan benar dan utuh. Tidak menolak khilafah hanya karena fakta sejarahnya yang berdarah-darah. 
Sebaliknya, setuju khilafah bukan hanya karena kesejahteraan semata, melainkan lahir dari panggilan iman. Kesadaran sebagai hamba Allah yang wajib diatur dengan hukum-hukum islam mulai dari bangun tidur sampai bangun negara.
Radikalisme memanglah sebuah ancaman, tetapi pemerintah hendaknya serius dan adil dalam menentukan siapa dan apa yang tepat disebut sebagai radikalisme. Sesungguhnya islam pun telah mengharamkan tindakan radikalisme semisal memaksa seseorang memeluk islam sebagaimana tertulis dalam surah al-Baqarah ayat 256.

Islam mengharamkan berdakwah dengan cara kekerasan dan anarkis. Saat berperang (jihad) norma-norma mulia tetap wajib diperhatikan semisal tidak boleh merusak tanaman, hewan dan membunuh wanita dan anak-anak. 
Demikian khususnya khilafah. Khilafah bukanlah ancaman bagi siapapun. Khilafah merupakan ajaran islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Sebuah sistem pemerintah yang berasal dari sang Khaliq, Allah swt. Tidak ada sesuatu apapun dari perintahNya kecuali kebaikan dan keberkahan.  Karena itu merupakan kekeliruan besar jika radikalisme disandingkan pada hal apa saja yang berbau islam khususnya perilaku kaum muslimin yang menginginkan tegaknya islam di seluruh kehidupan.
Radikalisme merupakan alat propaganda barat yang digunakan untuk menghantam islam dan kaum muslimin melalui kaki tangan mereka yang memiliki jabatan di negeri-negeri kaum muslimin. 
Barat secara sistematis dan masif mengesankan radikalisme identik dengan islam sehingga umat khususnya para pemuda takut mempelajari dan mengamalkan islam secara menyeluruh. 
Para pemuda, ujung tombak perubahan dijauhkan dari dari kesadaran islam politik. Tujuannya tidak lain adalah semakin mengukuhkan agenda penjajahan mereka di negeri-negeri kaum muslimin. Mengeruk kekayaan alam dan sumber daya manusianya.
Hari ini orang-orang kafir dan para penguasa sekuler boleh saja mencoba menyesatkan bahkan menghapus kata khilafah dan jihad dari benak kaum muslimin. Namun sejatinya usaha itu hanyalah sia-sia sebab kehadiran khilafah adalah janji Allah, bagaikan hadirnya mentari pagi setelah pekatnya malam.

Semakin orang kafir membisukan gaungan opini khilafah, dunia justru semakin membicarakannya. Sebab Allah sebaik-baik Makar.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. 
Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun  dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah ( janji )  itu, maka  mereka itulah orang-orang yang  fasik [ QS.an-Nur: 55]
 (Oleh: Dewi Murni, penulis opini dakwah, aktifis muslimah, sepinggan, 089695287240) 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website