Imbas Sekuler Di Sudut Muara

Senin, 20 Januari 2020
Tidak lama ini dunia sejagad raya  digeger atas kasus perkosaan “luar biasa” di salah satu Negara yakni UK Inggris. Pemberitaannya pun viral di media massa Inggris pascavonis hukuman seumur hidup penjara yang dijatuhkan pengadilan Inggris atas pelaku. 
Sedang berita lain hadir dari sebuah  desa hasil pemekaran  kecamatan Batu Sopang yang disahkan pada tanggal 29 Desember 2003 yakni Desa Muara Samu. Menurut media lokal telah terjadi peristiwa pencabulan Seorang pria berinisial Am (30) yang tega melakukan terhadap Sr yang masih berusia 4,5 tahun, jelang akhir tahun lalu, tepatnya Sabtu (28/12) pukul 16.00 Wita di Desa Muara Pasir, Kabupaten Paser.
Bak jarum jam yang terulang begitu pula kasus akibat pengendalian seksual yang tidak terkendali terus berulang, bukan hanya skala dunia namun juga telah masuk ke relung-relung terkecil sudut wilayah. Lebih miris lagi, kelakuan menyimpang dan keji ini dapat menimpa siapa saja, bukan lagi hanya kaum perempuan saja namun kaum lelaki bahkan terhadap seorang anak kecil juga.
Selaras dengan kenyataan yang ada di masyarakat rupanya hal ini juga menyedot perhatian LPSK Jakarta Timur "Dalam pandangan kami dari hasil permohonan yang masuk, kasus kekerasan seksual satu kasus yang mengkhawatirkan situasi kita saat ini, hampir tiap Minggu, setidaknya ada 4 kasus kekerasan seksual yang kami putuskan (tangani), angkanya dari 2016-2019 terus meningkat secara signifikan berdasarkan jumlah pemohon LPSK. 
Kami yakin angka-angka itu hanya puncak gunung es, belum angka dan jumlah riil korban kekerasan seksual, kami mengkhawatirkan fakta di lapangan jauh lebih besar yang tidak sampai ke LPSK." kata Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu saat konferensi pers .
Kejadian ini tentu saja makin membuat semua orang dewasa dan orang tua khawatir sekaligus prihatin terhadap kondisi generasi yang semakin banyak menjadi korban kekerasan dan kejahatan disemua lingkungan Indonesia. Adapun upaya pemerintah yang telah mencanangkan Gerakan Anti Kekerasan Seksual terhadap Anak (GN-AKSA) dan akan ditindaklanjuti dengan mengeluarkan instruksi presiden (inpres), dinilai tidak menyentuh akar munculnya persoalan.
“Bila dicermati program pemerintah ini lebih banyak mengembalikan tanggung jawab perlindungan anak dari kekerasan kepada orang tua dan keluarga. Tanggung jawab pemerintah seolah cukup diwujudkan dengan pemberian sanksi yang lebih berat pada pelaku kejahatan, dan pemberian fasilitas agar korban kekerasan mendapatkan bantuan pengobatan dan pemulihan kondisi mental,” tulis Iffah Ainur Rochmah, Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI).
Padahal persoalan ini, menurut Iffah, buah dari penerapan sistem sekuler dan liberal yang rusak,  yang hanya melahirkan kerusakan dan kebobrokan di semua lini kehidupan.  Tidaklah cukup menyelesaikan masalah ini hanya dari satu sisi, misalnya pendidikan seks pada anak semenjak dini, atau memperberat hukuman terhadap pelaku termasuk dengan memberikan suntikan hormon yang kerap disebut kebiri kimiawi.
Kata Iffah, perlindungan menyeluruh bagi anak dari kekerasan seksual mengharuskan negara membuat evaluasi menyeluruh atas kebijakan terkait berjalannya fungsi keluarga, adanya lingkungan yang kondusif, kurikulum pendidikan yang sejalan serta penegakan hukum.
“Ini artinya, negaralah pihak yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan sistem yang akan memberi perlindungan seutuhnya bagi anak. Bila sistem sekuler dan liberal yang berjalan saat ini terbukti hanya melahirkan maraknya kejahatan seksual terhadap anak, selayaknya sistem ini dibuang jauh-jauh dari kehidupan umat yang mayoritas Muslim ini,” tegas Iffah.
Selaras dengan pernyataan Iffah, saya pun sebagai tenaga pendidik menyetujui bahhwa perlindungn yang sistematik harus di lakukan negara melalui penerapan aturan dari segi sistem ekonomi sosial sistem pendidikan, sistem interaksi sosial, pengaturan media masa dan penerapan sistem sanksi yang hanya ada dalam sistem khilafah islam.

Penulis: Martinah S.PdA-Aktivis Kampus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website