Kabar Air Di 2020 ? Masihkah Di Liberalisasi ?

Air adalah kehidupan dan air bersih berarti kesehatan kata Audrey Hepburn, kata yang melegenda dari seorang aktris dan aktivis kemanusiaan Inggris. Benar sekali adanya, bahwa air adalah hal yang terpenting di dalam kehidupan manusia,manusia sendiripun dalam dirinya ada 50- 70 % terdiri dari air, termasuk kulit, jaringan tubuh, sel-sel dan seluruh organ. Tidak ada manusia yang dapat bertahan hidup dalam waktu lama jika tubuh kekurangan cairan. Intinya, air sangat penting.
Tentang air di Indonesia merupakan hal yang ruwet, padahal bunyi salah satu pasal 33 UUD 1945  "Bumi air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besar kemakmuran rakyat". Namun pada faktanya Undang-undang dibuat tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Jauh panggang dari api. Pasalnya, saat ini air menjadi salah satu permasalahan yang sedang santer dibicarakan sebagai akibat dari pengelolaan yang semrawut.
Beberapa bulan yang lalu di tahun 2019 Para pemuda di Paser dinaungi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Paser beserta organisasi kepemudaan lainnya dipimpin Eko Yuniantonosa bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Paser, menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan mengambil isu terkini yaitu kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Kandilo yang saat ini kondisinya memprihatinkan.
Kabid Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan DLH Paser Achmad Safari mengatakan kondisi DAS sudah dalam kategori kritis. Secara keseluruhan sungai yang ada di Paser sudah tergolong tercemar. Pasalnya telah terjadi peningkatan pencemaran untuk skala cemar berat, dari sampel pada 2016, terdapat 10 titik sungai menjadi 16 titik sungai sampai 2017. Indeks Kualitas Air di Kabupaten Paser pada 2018 berkisar di angka 39,375 dan masuk dalam angka status waspada.
Menurut media lokal yang ada tingkat erosi atau pelarutan tanah di Sungai Kandilo termasuk yang tertinggi di Kaltim dan Kaltara. Yakni mencapai 29 ton per hektare. Penyebabnya kata Safari ialah perubahan vegetasi penutup, pengupasan tanah pucuk, perubahan hidrologi, kerusakan tubuh tanah, dan  aktivitas industri maupun galian sumber daya alam.
Tentu saja wakil Bupati Paser Kaharuddin yang turut hadir mengatakan tidak hanya DAS Kandilo yang sudah tercemar kualitasnya, DAS Telake pun demikian. Perlu adanya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan menjaga lingkungan sekitar agar tidak rusak karena ulah manusia sendiri.
Manusia dengan ragam pemikiran kapitalis memanglah sangat berbahaya dalam memandang sumberdaya alam belum lagi Akibat dari tekanan politik globalisasi dengan sejumlah agenda neoliberal yang hegemoni. Berupa liberalisasi sumber daya alam kehutanan, pertambangan, hingga pembangunan kawasan ekonomi khusus dan energi baru terbarukan. Kondisi ini diperparah dengan eksploitasi mata air oleh pebisnis air minum kemasan, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan.
PDAM atau Perusahaan Daerah Air Minum yang merupakan salah satu unit usaha milik daerah, bergerak dalam distribusi air bersih bagi masyarakat umum. Terdapat di setiap provinsi, kabupaten, dan kotamadya di seluruh Indonesia kini sedang tidak baik-baik saja. Merupakan perusahaan daerah sebagai sarana penyedia air bersih yang diawasi dan dimonitor oleh aparat-aparat eksekutif maupun legislatif daerah sedang mengalami kerugian dan berdampak pada pelayanan terhadap masyarakat.

Sesungguhnya AIlah swt telah menciptakan sumber daya air yang berlimpah. Berikut mekanis daur air agar lestari bagi kehidupan. Tidak hanya itu Allah swt juga menciptakan keseimbangan pada segala aspek yang dibutuhkan bagi keberlangsungannya. 

Mulai dari hamparan hutan, iklim, sinar mata hari, hingga sungai danau dan laut. Hampir 71% permukaan bumi terdiri dari air, yang kelimpahan itu begitu menonjol di negeri ini. Hampir sekitar 21% total sumber air di wilayah Asia-Pasifik berada di wilayah Indonesia. Disamping itu, juga tampak dari begitu banyaknya jumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) dan cekungan.
Tidak hanya berlimpah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tapi juga bagi lestarinya kehidupan di bumi. Artinya, darurat kekeringan dan krisis air bersih bukan karena kurangnya sumber daya air. Keseimbangan alamiah tersebut dirusak.
Dalam konteks ulama pun, Nahdatul Ulama bahkan secara khusus mengadakan forum nasional pada 13/9/2012  lalu yang pada intinya menggugat UU No 7 tahun 2004 tersebut. Penilaiannya, pasal-pasal dalam UU tersebut telah mengubah esensi sumber daya air dari milik publik menjadi sumber daya privat (swasta). 
Air sudah dianggap komoditas, dan bukan lagi fungsi sosial. Ulama NU khawatir, jika diposisikan sebagai komoditas komersil maka akan terjadi ketidakadilan akses terhadap air, dimana pemilik uang akan leluasa menikmati air yang seharusnya terikat secara hak azasi kepada seluruh manusia apapun kelas ekonominya. Air tidak boleh dikomersilkan.
Inilah watak asli dari sistem kapitalisme sekuler. Siistem yang menjadikan keuntungan materi sebagai tolok ukur perbuatan. Semua di ukur dengan untung rugi. Bukan dengan rolok ukur Islam dan ridha Allaah swt. Akhirnya rakyat menjadi korban dan keserakahan para pemilik modal dan penguasa yang berselingkuh dengannya.
Karenanya, merupakan persoalan serius dan mendesak dilaksanakan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah, sebagai satu-satunya jalan pengembali hidupnya fungsi sahih negara.

Penulis: Martinah, S. Pd (Aktivis Paser) 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website