Musim Hujan Tiba, Krisis Air Berakhir?

Rabu, 8 Januari 2020
Mengantisipasi terjadinya krisis air di masa mendatang dan wujud menutupi kekurangan sumber air baku di Kota Minyak, Pemkot Balikpapan dan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan (P3EK) membuat gerakan panen air hujan. Sosialisasi pemanenan air hujan ini berlangsung di SMP 22, Senin (16/12). Sekaligus SMP 22 didapuk menjadi pilot project gerakan tersebut (17/12/19).
Dewi Murni

Isu krisis air bersih kini menjadi bagian viral dari banyaknya deretan masalah pokok negeri. Meski sebenarnya sudah terjadi sejak lama, namun kali ini makin ngeri. Sebab bukan hanya melanda Indonesia, seluruh penjuru dunia ikut mengalami. 
Tak ingin mati kekeringan, pemerintah melakukan beragam antisipasi. Misalnya memanfaatkan datangnya musim hujan yang dinanti-nanti. Sebagaimana fakta di atas yang pada akhirnya mengeluarkan gerakan panen air hujan agar kebutuhan air bersih terpenuhi.
Apresiasi patut tercurah kepada pemerintah karena setidaknya program tersebut menjadi solusi praktis yang bisa diamalkan saat ini. 
Mengingat saat ini Indonesia mulai memasuki musim hujan. Selebihnya kita harus berpikir serius dan mendalam bagaimana krisis air terselesaikan secara tuntas hingga akarnya. Karena air dibutuhkan 24 jam, bukan hanya oleh manusia saja, alam semesta juga sangat bergantung padanya.
Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia bersama dengan apa yang dibutuhkannya di muka bumi ini. Semua itu terhampar luas baik di daratan maupun di lautan. Bumi 71% terdiri atas perairan dan Allah karuniakan Indonesia sebagai negeri yang memiliki bagian besar dari jumlah tersebut. Indonesia mempunyai 470 Daerah Aliran Sungai  dan 232 cekungan air tanah yang 15 cekungannya ada di Kalimantan.
Tidak hanya menyediakan air bagi alam semesta, Allah Yang Maha Mengatur juga menciptakan hamparan hutan, intensitas matahari, temperatur hingga sungai, lautan dan danau. 
Semua itu dalam rangka menata keseimbangan alam demi keberlangsungan dan kelestariannya. Misalnya Air yang ada di laut, daratan, sungai, tanaman, dan sebagainya menguap ke angkasa (atmosfer) dan menjadi awan. Pada keadaan jenuh, uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (presipitasi) dalam bentuk hujan, salju, hujan es. Dalam hal ini biasa disebut siklus hidrologi atau daur air.
Kesimpulannya secara fisik ketersediaan air sebenarnya melimpah, sebagaimana Allah telah menegaskan bahwa, “…….dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (TQS al-Anbiyaa, ayat 2).
Salah satu hal yang memberikan pengaruh besar di balik krisis air adalah deforestasi hujan yang kian laju. Pengalihan fungsi hutan. Dewan Daerah Perubahan Iklim mencatat, laju deforestasi hutan di Kalimantan Timur rata-rata 98 ribu hektare per tahun sejak 1998. Sementara saat ini ibu kota negara akan segera pindah ke Kalimantan Timur yang jelas sekali membutuhkan banyak lahan guna menunjang infrastruktur.
Ibu kota itu direncanakan akan memiliki luas sekitar 180.000 hektar atau hampir tiga kali luas Jakarta saat ini. Alhasil, lagi-lagi pengalihan fungsi hutan semakin banyak terjadi baik lewat pembakaran maupun penebangan. 

Daerah resapan air kian menipis akibat banyaknya pembangunan gedung-gedung seperti mall dan hotel, perumahan, guna menyambut kehadiran ibu kota tersebut. Keadaan semakin parah dengan kerja sama pemerintah dengan investor asing dibalik pembangunan infastruktur tersebut. 
Kenyataan ini ujung-ujungnya menguntungkan pengusaha, sedangkan rakyat ketimpa buntungnya. Karena dorongan investasi tersebut adalah mengejar keuntungan materi, bukan semata-mata untuk riayah suunil ummah, mengurusi urusan umat. Jadi, tidak benar jika dikatakan krisis air terjadi karena meningkatnya populasi manusia.

Fakta sesungguhnya karena politik dalam mengurus segala urusan rakyat berada di dalam sistem yang rusak, yakni kapitalisme sekuler.
Begitulah kehidupan di tangan peradaban kapitalis sekuler saat ini. Hanya rusak dan merusak yang dilakoni. Akidah sekuler yang dianutnya menjadikan bumi tidak lagi dirawat dengan hukum Ilahi. Sebaliknya, hukum manusia dengan segala keserakahannya menjadi legal untuk menguasai. 
Melalui tangan penguasa dan kebijakan resmi atau UU investor bebas mengekploitasi SDA tanpa peduli bagaimana dampaknya nanti. Sistem ekonomi kapitalisme yang berperan hanya berdasarkan asas manfaat dan materi. Akibatnya rusaklah bumi hingga isinya. Maha Benar Allah dengan firmanNya di surah ar-Rum: 41, yang artinya,
Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Oleh karena itu, selama peradaban kapitalis sekuler tetap eksis di muka bumi, solusi panen air hujan hanyalah solusi tambal sulam. Tidak menyentuh akar masalah. Justru semakin dibiarkan kapitalisme sekuler akan semakin merusak bumi. 
Siklus air semakin terancam, kekeringan berkepanjangan kian berpotensi besar dan kehadiran hujan tidak lagi berkah. Hujan kini membawa bencana seperti longsor, banjir, angin kencang, dan lain sebagainya. Karena kesimbangannya telah dirusak.
Maka tidak ada langkah lain selain melangkah ke jalan yang benar sebagaimana tertulis dalam surah ar-Rum di atas. Yaitu kembali pada hukum Allah semata, menerapkannya secara totalitas. 
Menjadikan perabadan hanya dipimpin oleh islam ideologis. Dengan begitu keberkahan negeri akan datang darimana saja, insya Allah.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (al-Araf : 96)

Penulis: Dewi Murni-Praktisi pendidikan-Aktivis Dakwah Pena, Balikpapan. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website