Sistem Demokrasi-Kapitalisme, Muara Dari Ketidaksejahteraan Rakyat

Masyarakat Indonesia saat ini dihadapkan dengan berbagai persoalan dari segala aspek kehidupan, stunting, kenaikan tarif BPJS diawal tahun, pencabutan subsidi listrik, dan lain sebagainya. Berbagai kesengsaraan dan ketidaksejahteraan terus-menerus menambah beban rakyat Indonesia. Sesungguhnya Allah SWT berfirman :
 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum : 41)

dr. Nabila mengatakan di depan puluhan tokoh Balikpapan bahwa kesengsaraan hidup tersebut  akibat dari kemaksiatan manusia. Muara dari segala kemaksiatan yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia tidak lain adalah karena model negara yang salah urus.
“Ini adalah kerusakan sistem. Kita lihat hari ini negara yang ada adalah negara korporatokrasi. Para pengusaha bermitra dan bergandengan tangan dengan penguasa sehingga penguasa menjalankan negara ini sesuai dengan kepentingan pengusaha.” ujarnya dalam pertemuan tokoh di salah satu hotel Balikpapan, sabtu (21/12/2019).
Lebih lanjut, dr. Nabila yang sekaligus berprofesi sebagai praktisi kedokteran Islam ini mengatakan bahwa saat ini negara menjadi instrument kepentingan bisnis sehingga keputusan politik mengabdi kepada para pemilik modal. Akhirnya yang terjadi adalah kapitalisasi pendidikan, kapitalisasi kesehatan, dan berbagai kapitalisasi layanan publik lainnya. Yang artinya pelayanan publik akan berbayar dan rakyat yang akan kesulitan ketika mendapatkannya. Adanya kapitalisasi ini berpangkal dari sistem demokrasi karena penguasa di dukung dana dari kaum kapitalis kemudian dipilih oleh rakyat untuk menjalankan sistem kapitalisme. Timbal baliknya adalah penguasa membuat Undang-Undang  dan peraturan yang meliberalkan ekonomi.
“Kapitalisme dengan ide kebebasan memiliki harta pada akhirnya membuat kekayaan alam (tambang, energi, minyak, hutan, dll) dikuasai dan dinikmati oleh individu/swasta sehingga kekayaan tersebut menumpuk pada pemilik modal, pengusaha, atau pejabat pemegang konsesi.” papar beliau.
Baginya, hal ini ditambah dengan akan dibangun IKN. Secara lugas Presiden mengatakan akan mengundang swasta untuk pembangunan IKN. Sehingga peran negara dalam sistem kapitalisme sangat minim karena diserahkan pada individu/swasta, ekonomi diserahkan pada mekanisme pasar, sehingga nanti penerimaan negara yang terbesar adalah pajak dan hutang yang akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan lain sebagainya. Pada akhirnya negara menjadi lemah karena tidak memiliki cukup dana untuk mensejahterakan rakyat dan rakyat dibiarkan berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam pemaparannya tersebut juga dijelaskan bahwa saat ini yang terjadi adalah krisis layanan publik. Semua layanan publik hari ini berbasis manajemen perusahaan. Pemerintah menyusun Undang-Undang yang membolehkan swasta berbisnis layanan publik. Layanan dijual mahal kepada rakyat dengan pertimbangan untung rugi. Tidak ada jaminan pemerataan kebutuhan publik sehingga terjadi kesenjangan sosial.
Dampak dari negara salah urus karena diterapkan sistem kapitalisme di negeri ini adalah banyaknya pengangguran, tenaga kerja asing marak, penyakit sosial merajalela, kebodohan, kemiskinan, dan lain sebagainya. Kaum perempuan pun mendapatkan imbasnya. Saat ini banyak sekali perempuan yang bekerja karena beban hidup terus meningkat atau memenuhi lifestyle-nya. Akhirnya tugas perempuan sebagai Ibu dan pengatur rumah tangga menjadi terbengkalai. Perempuan di ekploitasi sehingga menjadi korban kapitalisme.
“Kemaksian terbesar dari bangsa ini tidak lain adalah ketika masih memilih sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme. Inilah sebenarnya kesalahan besar umat Islam khususnya di Indonesia ketika mengambil sistem politik buatan manusia yaitu demokrasi dan mengambil sistem ekonomi kapitalisme. Mengapa tidak mengambil sistem politik dan sistem ekonomi Islam yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah? Ini pertanyaan besar bagi kita. Ketika kita masih berpihak pada Demokrasi maka kita berkontribusi pada kemaksiatan tersebut.” tutup dr. Nabila.
Kemudian Ustadzah Imarofah menyambung bahwa seandainya manusia saat ini beriman dan bertakwa pasti akan menyadari bahwa hukum itu hanya milik Allah dan hak Allah, bukan dibuat oleh manusia. Maka sejatinya Demokrasi itu adalah sistem kufur karena hukum dibuat di legislatif dan tidak mengambil berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Penguasa saat ini tidak pernah berupaya untuk mencapai kemashlahatan umat karena kebijakannya semua dalam rangka untuk memalak rakyat. Namun pada saat yang sama, penguasa menutupi kegagalannya dengan melakukan fitnah terhadap Syariat Islam Kaffah dengan isu-isu radikalisme.
“Islam di cap sebagai agama yang keras dan intoleran. Adanya perjuangan umat untuk memperjuangkan Islam dalam bingkai Khilafah dikatakan memecah belah bangsa dan anti NKRI. Semua diarahkan kepada Islam dan umat Islam yang menginginkan Islam kaffah. Inilah yang dianggap oleh penguasa sebagai persoalan utama saat ini. “ tukas beliau.
Lanjutnya, persoalan utama khususnya di Balikpapan adalah angka HIV/AIDS yang terus meningkat tajam, seks bebas, LGBT, dan sebagainya. Justru penguasa saat ini menakut-nakuti umat dan memonsterisasi terhadap ide Khilafah. Padahal semua yang datang dari Islam termasuk Khilafah adalah ajaran Islam yang akan memberikan kebaikan karena sudah pernah diterapkan selama 13 abad yang lalu. Maka umat harus bersuara dan tidak boleh berdiam diri terhadap nasib umat Islam karena sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara dan kita nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Jadi teruslah bergerak dan berjuang bersama, terus fokus mengopinikan Khilafah dimanapun berada sehingga umat akan semakin menginginkan tegaknya Khilafah.
“Semoga kita semakin kuat dalam mengemban dakwah sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapi tantangan dalam memperjuangkan tegaknya Daulah Islam di Madinah.

Untuk itu yang harus kita lakukan saat ini adalah teruslah mengkaji Islam kaffah dari seluruh aspek kehidupan secara rutin, terus berusaha mengopinikan syariat Islam kaffah ini ditengah-tengah kehidupan kita, dan berani muhasabahi terhadap pengelolaan negara dengan kapitalis-sekuler dan demokrasi sebagai biang masalah bangsa. Maka dari sinilah akan terbentuk kesadaran umat sehingga mereka menginginkan Khilafah tegak. Semoga saja tahun depan akan berdiri dengan izin Allah..aamiin” ungkap Ustadzah Imarofah disertai pekikan takbir.

Penulis: Damayanti Irene (Aktivis Muslimah) 





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Design by Free WordPress Themes | Re Design by Raditya Designer Art - Jasa Buat Website